Jumat, 21 Juni 2013
Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo
Persaudaraan “ SETIA-HATI “ disingkat S-H didirikan pada tahun 1903 oleh
almarhum Bapak Ki NGABEHI SOERODWIRJO dengan nama kecilnya MASDAN.
Wafat pada tanggal 10 November 1944, dimakamkan di makam desa Winongo,
Kota madya Madiun. Ibu SOERODWIRJO ( Ibu Sarijati ) wafat pada tanggal 6
April 1969 dimakamkan di desa Winongo juga. Tujuan / sasaran“ S-H “
yang ditempuh adalah : Bela Negara, mengolah raga dan batin untuk
mencapai keluhuran budi guna mendapatkan kesempurnaan hidup,kebahagiaan
dan kesejahteraan lahir dan bathin di dunia dan di akhirat,dengan
jalan mengajarkan SILAT ( PENCAK SILAT ) sebagai olah raga atas dasar
jiwa yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat pula,yaitu dengan
meninggalkan semua yang menjadi larangan-larangan tuhan,dan
melaksanakan semua perintah-perintahnya ( MENS SANA IN CORPORE
SANO-AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR ). Jelaslah bahwa ajaran ini adalah ajaran
mulia,edi peni dan adi luhung.Oleh karena itu tidak mengherankan bagi
kita bahwa segala bangsa dan semua agama dapat menerimanya, khususnya
bangsa Indonesia. Sejak tahun 1964, “ S-H “ mengalami kemunduran, tidak
begitu aktif, hal ini disebabkan tidak lain karena keadaan juga,
sebagian besar Saudara – saudara “ S-H “ sudah banyak yang lanjut usia (
tua ), ditambah dengan makin berkurangnya penerimaan Saudara baru.
Banyak saudara “ S-H “ yang sudah sepuh satu per satu meninggal dunia,
sedangkan yang masuk menjadi saudara “ S-H “, dapat dikatakan hampir
tidak ada. Kalau keadaan yang demikian dibiarkan terus – menerus maka “
S-H “ lambat laun akan mengalami kepunahan. Untuk menghindari hal
tersebut serta untuk melestarikan ajaran yang edi – peni dan adi –
luhung, maka pada tanggal 15 Oktober 1965, Kami ( Soewarno ) merasa
terpanggil untuk bergerak ( mengaktifieer ) kegiatan – kegiatan “S-H “.
Dengan serentak gerakan ini mendapat perhatian yang besar dari para
pemuda dan dukungan yang kuat dari masyarakat, yang akhirnya berdaya
guna untuk membantu HANKAM, serta ikut Memayu Hayuning Bawono (
memelihara dan membangun keselamatn Negara / Dunia ), membantu Negara /
Pemerintah dalam bidang ketertiban dan keamanan. Dengan meningkatkan
latihan jasmani ( pencak-silat ) dan latiahn rokhani (iman dan taqwa
kepada Tuhan), maka dapat diharapkan para pemuda kita sebagai generasi
penerus akan menjadi kader bangsa yang militant yang sangat berguna
bagi kepentingan Negara dan bangsa. Latihan berarti juga membiasakan,
kebiasaan inilah dapat disebut sebagai takdir yang kedua ( het gewoonte
is de tweed natuur ). Kalau kita membiasakan baik, Tuhan akan
menakdirkan kita baik. Memang segala permulaan itu adalah sukar ( alle
begin is moeilijk ) terutama jalan yang menuju kepada kebaikan –
kebaikan Syurga tentu banyak sekali rintangan – rintanganya, sebaliknya
jalan yang menuju kepada kejahatan, kaemaksiatan, Neraka selalu
terhias dengan bunga – bungaan yang serba indah dan harum ( de weg naar
de hell is met bloemen geplafeit ). Oleh karena itu harus ditanamkan
juga kepada para pemuda kita yaitu cinta kasih dan kasih saying. Sesama
manusia harus dicintai sebagaimana mencintai pada diri sendiri ( heb
uw naasten lief gelijik u zelven ) atau falsafah agama Hindu yang
mengajarkan kesosialan yang tanpa batas yang berbunyi : TAT TWAM ASI ( ia adalah kamu ). Kalau di cubit merasa sakit jangan mencubit orang lain atau dalam bahasa jawanya adalah : KEMBANG TEPUS KAKI
(yen dijiwit kroso loro ojo njiwit liyan ). Bagi Tuhan semua manusia
itu sama, yang berlainan hanya taqwanya kepada Tuhan dan yang lebih
taqwa itulah yang akan banyak mendapat keridhaan Tuhan. Ketaqwaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa wajib direalisasikan dengan amalyah, ibadah dan
karya nyata dalam pembangunan. Membangun manusia Indonesia seutuhnya
berdasarkan Pancasila dan Undang – Undang Dasar 1945. Maka wajib bagi
setiap manusia Pancasilais yang membangun Indonesia ini meresapi,
menghayati dan mengamalkan ketaqwaan dalam arti yang sebenarnya. Dalam
perkembangan dunia ini. Tuhan senantiasa menjadikan waktu – waktu pada
saat – saat yang bersejarah sejak zaman purba sampai akhir zaman.
Sejarah itu merupakan guru dan suri tauladan bagi orang yang suka
mengambil pelajaran dari padanya. Kita ini khususnya para generasi muda
sebagai generasi penerus harus pandai mangambil hikmah dari peristiwa
bersejarah untuk dijadikan suri tauladan dalam berbuat dan bertindak.
Kepada para Tunas Muda “ S-H “, diajarkan pelajaran Pencak Silat yang
berasal dari para pendekar terkenal ( sembilan orang pendekar ) dan yang
terakhir dari Bapak Ki Ngabehi Soerodwirjo, Saudara Tertua dalam
Persaudaraan “ SETIA – HATI “ Winongo (sebagaimana yang telah terurai
pada Lampiran – Lampiran diatas). Dengan metode yang demikian ini, maka
seluruh pelajaran dengan mudah diserap oleh para Tunas – Tunas Muda
Kita yang dapat berhasil dengan sukses. Kita selalu berpedoman : A. A
sense of purpose and direction ( rasa tujuan dan tanggung jawab seorang
Pemimpin yang mempunyai cita – cita ) B. Integriteit ( rasa setia
Saudara ) Salah satu ikatan yang penting yang menghubungkan seorang
Pemimpin dengan pengikut – pengikutnya ialah “ Rasa Percaya “.
Para pengikut seorang Pemimpin ingin mendapat keyakinan bahwa
kepentingan mereka selalu dipikirkan dan diperjuangkan. Para pengikut
ingin diyakinkan bahwa kata –kata yang diucapkan oleh Pemimpinnya dapat
dipercaya dan bahwa mereka tidak usah takut akan ditinggal atau
dikhianati dalam waktu menghadapi kesulitan – kesulitan. Dengan demikian
antara yang dipikirkan dan apa yang dilakukan oleh Pemimpin haruslah
ada Harmoni dan Kesatuan. “ The greate man does not think
before hand of his words that they may be greate. Not of his actions
that they may be resolute, he simply speaks and does what is right “
Kita selalu bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bahwa segala sesuatu
yang digariskan oleh Pemerintah selalu dapat kita kerjakan /
laksanakan dengan sukses.